
Hmm kembali lagi ke rutinitas. Udah mulai ke kantor lagi, meskipun suasana kantor masih aura liburan. Banyak yang ngambil cuti. Namun, tetep buat gue kerjaan udah mulai menunggu dengan manisnya, huh.
Well, sudah pada nonton Laskar Pelangi? Gue nonton Senin kemaren. Telat ya? Tadinya malah berencana nonton dengan Pak Pres, huehehehehe! Gue tidak akan membandingkan film ini dengan novelnya sih, karena jelas beda media. Di novel kita membaca cerita dan menggunakan daya imajinasi masing-masing untuk membayangkan adegan-adegan dari bahasa indah sang penulis. Kalau film, yah kita langsung terima visualisasi yang sudah ada. Lalu bagaimana dengan Laskar Pelangi?
Waktu nonton film ini gue tidak berekspektasi terlalu tinggi, bahwa harus sama denga novelnya. Jadi gue singkirkan jauh-jauh gambaran yang sudah gue punya sendiri tentang Laskar Pelangi. Dan mulai menikmati visualisasi yang ditawarkan Riri Riza. Ternyata oke juga, hehehe.
Film dengan durasi lebih dari 120 menit ini dikemas dengan apik, termasuk alam Belitung disajikan dengan indah. Pemilihan pemain yang asli anak-anak Belitung juga pas banget. Selain itu Cut Mini sebagai muslimah juga oke, hmm jadi inget waktu beberapa taon lalu Cut Mini sering banget pake logat Melayu di sebuah sitkom. Pada inget ga?
Adegan yang paling gue suka waktu Mahar nyanyi Bunga Seroja (bukan yang waktu ada penari latarnya itu, hehe). Abis kesannya kayak film anak-anak jaman dulu, yang ada nyanyi-nyanyi-nya. Inget gak film Rano Karno jaman kecil dulu yang sering diputer di RCTI taon 90-an? Huehehehe… Adegan yang agak nanggung, adalah pada saat Lintang pergi sekolah. Cuma ngegambarin Lintang yang harus melewati buaya setiap hari. Padahal kan perjuangannya lebih dari itu ya…
Well, secara keseluruhan film ini menarik kok. Durasinya yang lama ga bikin film ini membosankan. Coba deh tonton, hehehe…
*menyanyi Bunga Seroja…*